Iseng-Iseng Tapi Beneran
Assalamualikum Wr. Wb.Sahabatku yang sugih-sugih.
Ruangan begitu gaduh dan tak beraturan, sebagian anak sibuk dengan kertas gambar dan pensilnya. Di sudut lain beberapa anak asyik bergerombol menceritakan film yang baru saja tayang tadi malam, adapula yang lari saling berkejar-kejaran mengitari ruang kelas, bangku dan mejapun tak setertib biasanya.
Laki-laki dengan perawakan gimbal seolah acuh dengan keadaan, dia duduk asik dimeja paling depan sambil memerikasa beberapa buku tugas siswanya, sesekali dia mengkerut-kerutkan dahi memfokuskan pandangan kearah buku yang sedang di pegangnya, usia telah mengganggu kinerja matanya, di tambah lagi tulisan anak-anak SD kelas 5 itu tidak semuanya jelas untuk di baca. Kumis tebal yang setia menempel di bawah lubang hidungnya tak lagi rapi seperti pagi tadi. Tumben, monster itu pagi ini agak jinak. Begitulah sebagian anak mencelanya. MONSTER itu bernama sukarya.
Di bagian sudut yang berbeda seorang anak laki-laki lebih memilih diam menyendiri di bankunya. Dia tak seagresif seperti temannya yang lain. Hampir 1 jam keadaan itu berlangsung, kini aak itu mulai bosan. Tak ada satupun temannya yang bisa di ajak berinteraksi, ahirnya anak itu punya cara sendiri untuk mengusir kejenuhannya, memukul-mukul meja, istilah lain dalam bahasa sunda adalah tatalu, sebuah aktivitas yang menyerupai drummer, hanya saja media yang di gunakan adalah meja. Sebenarnya bisa apa saja yang penting ketika di pukul bisa menghasilkan suara.
Kini anak itu mengambil ancang-ancang, melakukan pelemasan pada jari-jari tangannya. Imajinasinya telah meluncur jauh dari alam sadarny, seolah dia adalah seorang Drummer papan atas sekelas Eno Netral jika masa sekarang, paaakk... paakk.. buukk.. paaakk, prak……!!!!, suara yang di hasilkan oleh getaran meja akibat pukulan sang anak menghasilkan intonasi nada, menambah suasana kelas menjadi lebih gaduh.
Sukarya bangkit dari kursinya, nada yang di hasilkan dari pukulan meja telah membuatnya merasa terganggu. Dia mengedarkan pandangan kearah siswa yang masih asik dengan aktivitasnya masing-masing, Barok…!, Sukarya berteriak. Sontak membuat isi ruangan kelas menjadi sunyi senyap berubah 180 derajat dari keadan semula. Semua anak tersentak kaget, anak laki-laki itu bernama Mubarok, kini dia mendapatkan perhatian serius dari semua orang dalam kelas, semua mata tertuju padanya. Terlebih sukarya, mukanya terlihat lebih garang dan sangar, kumis yang sudah layu karena terik matahari kini kembali berdiri seram terbakar emosi. Sukarya benar-benar merasa terganggu dengan suara tatalu yang di lakukan oleh mubarok.
Sambil menunjukan telunjuknya kearah mubrok, sukarya memanggilnya untuk maju kedepan kelas. Barok munundukan kepala sambil berjalan pelan menuju depan kelas. Di depan sukarya menunggunya dengan amat serius. Sesampenya di depan, barok di perintah untuk memegang telinga dan mengangkat sebelah kakinya. Dia di dihukum (Strap)…
Suasana menjadi sedikit agak mencekam, sukarya melanjutkan kembali pekerjaannya memeriksa buku tugas siswanya. Sementara siswa lain masih focus perhatiannya pada satu arah yang sama pada mubarok. Hampir 15 menit sudah mubarok di hukum, sementara sukarya pamit sebentar hendak ke kamar kecil. Selepas sukarya meninggalkan pintu kelas. Sontak anak-anak kembali bergemuruh gaduh, kompak berterik meledek mubarok yang sedang taat menjalani hukumannya.
Barok mulai merasakan lelah, keringat bercucuran membahasi baju putih yang sudah agak kumal, untuk melampiaskan kekselannya pada sukarya, dia pun menggerutu, Dasar si kumis sagede tai….!! (Dasar kumis sebesar tai..). tanpa sadar, tanpa sepengetahuannya rupanya sukarya sudah memasuki ruang kelas kembali. Dan gawatnya lagi sukarya mendengar dengan jelas gumaman mubarok. Naon…..? (Apa….?). mubarok kaget bukan maen, dengan reflek dia loncat dan lari keluar kelas. Sukarya mengejar dan memanggilnya penuh kesal. Mubarok yakin betul kalo sukarya telah benar-benar marah padanya. Diapun tak berani untuk kembali masuk kedalam kelas dan mubarok lebih memilih untuk pulang.
Jam pulang sekolah tiba, kebetulan rumah mubarok persis di pinggir jalan, melalui jendela rumahnya dia mengintip kearah jalan untuk memastikan kalo teman-temannya sudah pulang. Tak lama berselang gerombolan anak-anak berseregam putih merah memenuhi jalanan itu pertanda kalo jam sekolah sudah selesai. Satu anak dari gerombolan itu menghampiri rumah mubarok dan mengetuk pintu rumahnya. Kebetulan orang tua mubarok belum pulang dari berkebun sehingga mobarok sendiri yang membukakan pintu dan rupanya anak itu adalah juen, teman satu kelas mubarok. Dia bermaksud mengantarkan tas yang di tinggalkan mubarok di ruang kelas.tak hanya itu, juen juga menyampaikan pesan dari sukarya kalo besok mubarok akan di hukum lagi. Mendengar pesan tersebut mubarok menjadi lebih hawatir dan merasa ketakutan..
Hari berganti, pagi datang berarti waktunya kembali untuk bersekolah, namun hari itu mubarok tak mau berangkat kesekolah, sementara orang tuanya tatap memaksa agar mubarok berangkat, tapi rupanya ketakutannya pada sukarya telah mengalahkan perintah dan kemauan orang tuanya. Orang tua mubarok mengalah, mereka berharap mungkin besok mubarok mau berangkat kembali bersekolah. Tapi harapan mereka ahirnya pupus selama berhari-hari mubarok tak mau berangkat ke sekolah. Sampe pada ahirnya sukaryapun mendatangi rumah mubarok untuk menemui kedua orantuanya sekaligus menjelaskan krolonogis yang bisa jadi sebagai penyebab mubarok tak mau berangkat kesekolah. Usaha skaryapun untuk membujuk mubarok kembali kesekolah mengalami kegagalan, jangankan membujuk, untuk bertemunya saja mubarok tak mau dan malah memilih untuh berlari.
Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya mubarok tak mau lagi kesekolah, dia telah mengalami phobia dengan sekolah. Mubarok lebih memilih ikut membantu orangtuanya untuk bertani daripada bersekolah. Keadaan ini membuat orangtua mubarok hawatir dengan masa depan anaknya. Setelah melalui pertimbangan dan musyawarah antara keluarga, akhirnya orang tua mubarok memilih untuk mendidik mubarok melalui jalur informal yaitu pesantren. Mubarok menimba ilmu di sebuah pesantren yang terletak di kota kecamatan. Lumayan jauh dari kampungnya. Kondisi itu mengakibatkan mubarok jarang pulang, hanya akan pulang jika persediaan dan perbekalannya habis itupun sekita 3 sampai 4 bulan sekali atau jika ada keperluan yang memang sangat amat penting.
Jalan takdir mubarok memang pesantren, disanan dia tumbuh menjadi remaja dewasa yang cerdas,7 tahun sudah lamanya dia mengenyam pendidikan di pesantren Irsyadut Thalibin Kalapanunggal.
Bersambung....
Wassalmualikum Wr. Wb
